DERING POLYPHONIC HANDPHONE BARU AYAH
SEPULANG dari kantor, kembali, ayah memamerkan senyuman manis legendarisnya kepada kami semua.

Ibu mendelik dan mencoba membaca ada gelagat apa gerangan suaminya yang ganteng itu senyam-senyum sendiri ala selebriti dapat Piala Oscar. Kalau ibu dulu sempat termehek-mehek (istilah lain dari "terpesona") lantaran terbuai senyuman manis ayah, kali ini aji ilmu kebal "anti senyum menggoda tanpa makna" yang dimilikinya membuat beliau tidak serta merta takluk.
Ayah yang segera mengerti senyuman gombalnya itu tak mendapat respon berarti langsung memamerkan sesuatu. Wow, Handphone baru !. Motorola C-380. Warna dasar hitam, sisi keperakan, layar 65,000 warna, built-in speaker phone dan yang lebih penting lagi dering polyphonik plus MP-3. Kereeen booo..!
"Kebetulan, masih ada sisa bonus tempo hari. Ditambah lagi ada program promosi diskon dari Motorola. Jadi sekalian aja beli HP baru," kata ayah beralasan.
Ibu mengamat-ngamati Handphone baru tersebut sambil manggut-manggut.
"Tapi koq kameranya nggak ada ?", tanya ibu heran.
"Nggak perlu. Yang penting kan' fungsi handphone sebagai alat komunikasi saja. Soal jeprat-jepret kita toh sudah punya kamera digital," sahut ayah.
Ibu mengangguk setuju.
Setelah mengalami efek traumatis yang cukup akut atas kehilangan handphone tempo hari, ayahku nampaknya kembali bangkit dari keterpurukan. Selama ini beliau menggunakan handphone inventaris kantor Siemens S-35. Hampir setahun kami selalu mendengarkan dering monophonik ituuuu-ituu saja : "Dangdut is the Music of my Country" (Project Pop). Suaranya nyaring melengking sampai konon kabarnya pernah ada pengamen bis kota mengajukan protes ke ayahku--yg ketika itu jadi penumpang--karena nyanyiannya "ketutup" sama dering handphone ayah.
"Sekarang coba dengar suaranya Rizky," kata ayah seraya mengangsurkan handphone tersebut ke telingaku. Aku mendengarkan dengan seksama.
"Hellllooooo....Mottttoooo...!!"
Demikian suara itu terdengar merdu diikuti musik yang memikat. Aku tertawa kegirangan dan Adik Alya pun ikut berteriak senang.
"Norrraaak deh, Papanya Rizky!," ibuku mencibir sambil tertawa berderai.
SEPEDA BARU BERWARNA BIRU
HARI Minggu siang, 20 Maret 2005, aku terbangun dari tidur siang yang lelap. Dalam kondisi setengah mengantuk, aku meraba-raba disampingku mencari ayah yang tadi mengeloniku sebelum tidur. Tidak ada !. Aku panik lantas berteriak sekencang-kencangnya. Memanggil ayah. Adik Alya yang sedang pulas tidur jadi terbangun dan menangis sejadi-jadinya. Ibu datang tergopoh-gopoh. Beliau langsung menggendong Alya sekaligus menenangkanku yang mengamuk ala banteng melawan matador.
"Tunggu dulu nak. Ayahmu lagi beli sepeda baru untuk kamu. Sebentar lagi datang koq," kata ibu pelan.
"Sepeda ?," tanyaku penasaran.
"Ya..sepeda. Soalnya sepeda yang lama kan' sudah tidak layak lagi. Warnanya kusam dan sudah rusak. Lagipula sudah tidak cocok untuk usiamu sekarang," kata ibu menjelaskan.
Aku terdiam. Benar juga. Sepedaku yang lama, benar-benar sudah tidak layak pakai. Dengan usia menjelang 3 tahun seperti sekarang, aku nampaknya lebih cocok memakai sepeda roda tiga.
Tidak berapa lama kemudian terdengar derum suara ojek didepan rumah. Aku berlari menuju ke depan pagar rumah kami. Disana, dengan peluh mengucur di sekujur tubuh, ayah datang sambil "menggendong" sepeda baru berwarna biru. Aku melonjak kegirangan. Setelah membayar ojek, ayah mengajakku mencoba sepeda baru. Tapi sayang sadelnya masih terlalu tinggi. Ayah lalu menurunkan sadel sepeda baruku itu lebih rendah. Sambil menirukan bunyi motor aku mengayuh sepeda baruku dengan riang gembira.
PAKDE SAMAN KENA SANTET, DIK ALYA"DITEMPEL"KUNTILANAK
KEJADIAN menghebohkan terjadi secara runtut dalam kehidupan keluarga kami pada Hari Sabtu dan Minggu, 12-13 Maret 2005. Peristiwa pertama adalah, Pak De Saman, suami Bude Surat (kakak sulung ibuku) terkena santet. Didunia yang serba modern dan hi-tech seperti ini, tak dinyana, ilmu hitam seperti santet ternyata masih dipakai sebagai sarana paling kejam oleh orang-orang yang berwatak jahat yang tidak senang pada keberhasilan orang lain. Pak De Saman yang baru saja di-PHK dari pekerjaannya disebuah perusahaan percetakan, tertimpa musibah yang nyaris merenggut jiwanya. Sekitar sebulan yang lalu beliau selalu merasakan nyeri di dada dan kepala pusing. Tanpa curiga sedikitpun, Pak De Saman dan Bude Surat memeriksakan ke dokter. Dokter pertama menyatakan beliau sakit darah tinggi. Setelah diberi obat, tapi tidak sembuh juga, Pak De Saman memeriksakan diri ke dokter kedua. Diagnosanya.tetap sama : Darah Tinggi. Obat yang diberikan dokter kedua, juga tidak mempan. Pak De Saman masih merasakan keluhan serupa. Saat diperiksa dokter ketiga, diagnosa masih sama dan obat yang diberikan tidak memberikan efek penyembuhan yang berarti. Pak De Saman makin menderita. Sakit di didada makin menjadi-jadi. Tanpa putus asa, meski sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit diantaranya dari gaji Bu De Surat sebagai guru TK yang tidak seberapa, mereka memeriksakan diri ke dokter keempat. Kali ini analisa dokter keempat menyatakan Pak De Saman mengalami stress dan perlu istirahat. Obat yang diberikan dokter keempat, sama tidak mempannya dengan dokter-dokter sebelumnya. Pak De Saman makin tak berdaya dan kesakitan. Bude Surat panik dan menelepon adik-adiknya termasuk ibu, Om Sukar dan Om Dion. Atas saran orang-orang terdekat, Pak De Saman dicoba untuk diobati oleh paranormal mengingat fenomena yang terjadi sungguh sangat aneh dan mungkin tidak bisa ditangani secara medis. Dari empat paranormal yang menangani Pak De Saman, semua punya pendapat serupa : Pak De Saman kena santet!.
Kabar tersebut sangat menyentak keluarga kami. Sungguh tak disangka, ada orang yang tega membuat Pak De Saman yang penyabar, baik hati dan pendiam itu, dengan tindakan yang sungguh tidak terpuji dan tercela. Tahapan penyembuhan pun segara dilakukan. Keempat dukun bekerja keras menyembuhkan Pak De Saman. Ketika salah seorang dukun menanyakan kepada Pak De Saman dan Bu De Surat apakah santet yang dikirim itu mau dikirim balik ke sang pengirimnya, Pak De Saman menggeleng. “Biar saja Allah yang membalas perbuatan keji itu, untuk saat ini yang paling penting saya cukup disembuhkan saja,” sahut Pakde Saman menampik tawaran itu.

Ketiga dukun pertama tidak memberikan penyembuhan yang cukup maksimal. Dukun terakhir dari Cikarang yang merupakan menantu dari Nenek yang pernah mengobatiku dulu dari syndrome ketergantungan ASI (baca disini) sekaligus tetangga Om Sukar, paling mumpuni dari ketiga dukun sebelumnya.
Pada Jum’at malam (11 Maret 2005) seusai Maghrib, Pak Dukun muda yang baru berusia 30 tahun itu (Namanya Pak Kholid), beraksi dengan “menarik” benda santet di tubuh Pak De Saman dari jarak jauh. Berkat izin Allah SWT, melalui perantaraan handphone om Sukar yang berada di Cikarang bersama Pak Kholid dengan telepon Bude Surat di Tanjung Priok (jarak yang terbentang 45 kilometer !), benda-benda santet ditubuh Pakde Saman “ditarik” dan “ditempatkan” didalam sebutir telur yang telah disiapkan. Mau tahu apa isinya ?. Setelah telur dipecahkan keluarlah 3 batang jarum berlumuran darah dan satu diantaranya sudah berkarat. Konon sang pengirim Santet itu memang berniat membuat Pakde Saman menderita. Om Sukar menceritakan ketakjubannya atas kejadian itu melalui telepon kepada ibuku yang terus memantau perkembangannya.
Keesokan paginya, Pakde Saman dan Bude Surat datang langsung ke rumah Pak Kholid untuk memaksimalkan penyembuhan karena katanya masih ada jarum santet yang bercokol di tubuh Pakde Saman. Setelah melalui ritual batin yang cukup lama, Pak Kholid mengeluarkan satu jarum yang tersisa di jantung lewat punggung Pakde Saman dan “dipegang” dengan gigi sang dukun sakti asal Cikarang itu!. Pak Kholid masih mencoba “menarik” barang-barang santet dari tubuh Pakde Saman dengan perantaraan sebutir telur, tapi setelah dipecahkan sudah tidak ada lagi.
Setelah proses penyembuhan selesai,Pakde Saman dan Bude Surat mampir kerumah kami di Perumahan Cikarang Baru yang berjarak lebih kurang 10 km dari rumah Pak Kholid. Memang, sejak acara akikah dik Alya 3 bulan lalu, Pakde Saman dan Bude Surat belum sempat menjenguk kami sekeluarga. Mereka lalu menceritakan kisah tragis itu kepada kami. Ibuku yang tertarik pada hal-hal gaib begitu antusias mendengarkan kisah Bude Surat dan Pakde Saman. Konon, setelah benda-benda santet itu diambil badan Pakde Saman, keadaan beliau sudah cukup menggembirakan meski katanya agak terasa perih didada, seperti ada bekas sayatan/ luka. Pakde Saman bahkan sempat menunjukkan bekas “penarikan” jarum santet terakhir dipunggung beliau kepada ayah yang berbentuk seperti bekas sayatan kecil dan masih menyisakan bercak darah.
Setelah Pakde Saman dan Bude Surat pulang kembali ke Tanjung Priok, malam harinya, ada kejadian janggal lain menyusul. Dik Alya rewel, tidak seperti biasanya. Tangisan Alya kali ini terasa lebih berbeda dari yang biasa aku dengar. Lebih melengking dan menyayat hati. Ibu dan ayahku jadi panik.Untunglah kejadian tidak berlangsung lama. Alya kemudian tidur lagi. Tak ada kecurigaan apapun dari ayah dan ibu sesudah itu.
Keesokan harinya, Minggu 13 Maret 2005, Dik Alya, yang rambutnya baru saja dicukur plontos memperlihatkan gejala yang aneh. Biasanya adik bungsuku ini begitu lincah, mudah ketawa dan atraktif. Jika aku berteriak kencang iapun mengikutinya, lebih kencang lagi. Alya terlihat lesu dan pucat. Raut wajahnya sendu. Saat ayah dan ibu mengajaknya bercanda, Alya tetap tak bereaksi dan balik memandang tanpa ekspresi. Ayah mengajak ibu ke dokter membawa Alya untuk diperiksa. Namun, ibu tampaknya merasakan bahwa keanehan pada Alya merupakan gejala mistis.
Seusai Maghrib, Ayah segera menelepon om Sukar untuk minta pendapatnya. Beliau curiga, kedatangan Bude Surat dan Pakde Saman kemarin ke rumah kami setelah diobati oleh Pak Kholid berdampak langsung pada dik Alya yang masih polos dan ceria itu. Melalui telepon, Pak Kholid “meneropong” kondisi Alya dari jarak jauh. Ibu yang menggendong Alya diberi instruksi memegang bawah kepala Alya dan Ayah diharuskan membaca istighfar terus menerus sambil mengelus ubun-ubun Alya lembut. Tak disangka Alya mengamuk hebat. Ia menangis dan meronta sekuat-kuatnya. Ibu menggendong Alya jadi panik, tidak menyangka mengalami kejadian itu. Ayahpun sama kagetnya, namun beliau tetap membaca istighfar diatas ubun-ubun kepala Alya dan berusaha tetap tenang. Aku sempat ketakutan dan buru-buru memeluk Mbak Ida Dora. Suasana cukup mencekam ketika itu.
Tidak berapa lama kemudian ibu menelepon Om Sukar yang ketika itu berada disamping Pak Kholid dengan speaker handphone dinyalakan agar kami semua bisa mendengar percakapan itu.
“Bagaimana Pak Kholid anak saya ?” Tanya ibu cemas.
“Sudah aman, bu. Tampaknya ada hantu wanita berwujud kuntilanak menempel di tubuh Alya sejak pagi tadi,” sahut Pak Kholid,”tapi sudah saya usir dan simpan didalam botol. Ketika saya tanya asalnya darimana, ia tidak mau mengaku”
“Kuntilanak ?”, ibu terbeliak kaget. Ayah mengerutkan kening. Aku bergidik ngeri. Mbak Ida Dora makin pucat wajahnya, hidungnya kembang-kempis.
“Iya, tapi sudah saya usir koq. Alya juga sudah saya “pagari” sehingga Insya Allah tidak kerasukan mahluk-mahluk aneh kayak tadi itu. Hantu ini tidak datang melalui Pak Saman dan Bu Surat kemarin. Tampaknya baru masuk tadi pagi. Tapi boleh jadi, salah satu pemicu kedatangan sosok gaib ini dari kunjungan mereka kemarin. Besok saya kerumah deh untuk memastikan dan menambah “pagar mistik”nya,”kata Pak Kholid tenang.
“Syukur Alhamdulillah. Terimakasih banyak atas bantuannya Pak Kholid,”ucap ibu tulus pada Pak Kholid. Kami melihat mata Alya kembali berbinar. Keceriaan adikku yang cantik ini sudah kembali lagi. Seperti dulu. Seperti biasanya.
BETAPA KINCLONG RUMAH KAMI
SEJAK Hari Rabu, 2 Maret 2005, dua orang tukang spesialis pasang keramik anak buah Om Parno yang kebetulan adalah Ayah-Anak yaitu Pak Warto dan Mas Eko asal dari Magelang, bahu membahu mengerjakan proyek prestisius: penggantian keramik rumah kami. Mereka mulai bekerja pukul 08.00 pagi sampai 18.00 sore. Kadang-kadang lembur hingga Pkl.20.00 malam. Pada 2 hari pertama, mereka mengerjakan ruang tamu dan ruang kamarku dahulu. Ayah, Ibu, dan Mbak Ida Dora, ikut-ikutan sibuk memindahkan barang-barang berupa lemari dan tempat tidur. Sejauh ini, tempat tidur utama belum diganggu-gugat dulu jadi aku dan Alya masih bisa tidur dengan lelap diperaduan kami yang dilengkapi AC itu. Pekerjaan penggantian keramik tidak semudah yang aku bayangkan. Pak Warto dan Mas Eko harus membongkar lebih dulu keramik lama hingga ke "akar-akarnya". Pondasi dasar keramik yang cukup kuat dibongkar itu tak urung membuat kedua tukang andalan itu ngos-ngosan.
"Uuuuaaloot tenaaan' !(Keras amat !) ," gerutu Pak Warto sambil menyeka keringat dikeningnya. Ibu datang menyapa mereka menunjukkan simpati seraya menyodorkan dua gelas sirup es jeruk serta kue gorengan.
"Istirahat dulu Pak, diminum sirupnya sekalian makan gorengannya. Supaya tambah tenaga," kata ibu menawarkan.
"Wah, Matur Nuwun bu. Tapi tanggung. Nanti aja deh.Tinggal sedikit lagi koq," sahut Pak Warto yang kemudian melanjutkan kegiatan mbongkar bumi-nya.
Aku yang duduk menyaksikan mereka cukup takjub melihat Pak Warto dan Mas Eko berbadan kurus kering kerontang menantang itu, memiliki tenaga yang luar biasa mengerjakan kegiatan yang menuntut stamina fisik yang prima.
"Opo Rizky lihat-lihat, Mau bantu ?," goda Mas Eko kepadaku sambil mencolek daguku.
Aku tertawa seraya mengambil sebuah batu kecil bongkaran semen lalu melempar ke Mas Eko.
"Eitts..Rizky jangan lempar-lempar doong," seru Mas Eko berkelit.
"RIZKYYY!, Jangan Nakal !", hardik ibuku tegas sambil menjewer kupingku kemudian menggiringku menjauh dari aktifitas pekerjaan tukang kami.

Aku lantas diisolir ditempat yang cukup "aman" dari keusilanku dan larut dalam kesibukan melukis "apa-adanya" diatas kertas gambar yang disediakan ibu. Hari Sabtu pagi,5 Maret 2005, saat bangun tidur, aku terkesima menyaksikan perubahan yang begitu signifikan di ruang tamu kami. Wow, begitu kinclong rumahku!. Hamparan keramik baru berwarna putih dengan corak garis kehijauan begitu berkilau diterpa sinar mentari pagi yang berwarna keemasan. Semalam, aku memang tidur lebih cepat karena keasyikan bermain dan tidak melihat saat keramik ruang tamu dipasang.
Aku begitu excited!.Dan berteriak senang.
"Eh, Boss kecil sudah bangun," sapa ayahku yang sedang membaca koran pagi ditemani kopi panasnya. "Jangan senang dulu kamu, karena kamar utama akan dibongkar hari ini. Rizky dan ayah tidur dengan "kasur gusuran" diruang tamu sementara ibu dan Alya tidur dikamar yang satu lagi".
Aku menggeleng tak setuju. Terbayang dalam benakku bakal tidur tanpa kesejukan hembusan AC dikamar dan diganti dengan baling-baling kipas besar diruang tamu.
"Tapi kan' hanya sementara karena Hari Senin sudah bisa dipakai lagi dengan keramik baru,"kata ayah menghibur sambil menggendongku ke pangkuannya.
"Sekarang Rizky cuci muka dulu, minum susu, gosok gigi, lalu bantu ayah pindah-pindahin barang dari Kamar Utama kedepan," kata ibu yang muncul dari arah belakang. Ayah kemudian menggendongku ke kamar mandi untuk membasuh muka. Didepan pintu kamar mandi, Aku melirik lantai keramik kami lagi, "Kinclong booo !"
MEMBURU KERAMIK CIAMIK
"RIZKY, siapkan kacamatamu, hari ini kita berburu keramik," titah ayahku, Sabtu pagi yang cerah, 26 February 2005. Setelah Nota Kesepahaman melalui musyawarah telunjuk antara kami disepakati semalam, maka hari ini, aku dan ayah akan berburu keramik ciamik berwarna biru. Beberapa waktu sebelumnya, ayah telah memanggil Om Parno untuk membicarakan soal pengerjaan penggantian keramik dirumah kami dan rencananya akan dimulai Hari Rabu minggu depan. Ibu telah mempersiapkan segala sesuatunya di ransel kuningku. Air Mineral, baju ganti, topi dan kamera digital ayahku untuk memotret keramik yang sesuai kemudian gambarnya nanti ditunjukkan kepada ibu dan jika cocok maka dapat segera dibeli.
Ibu memang tidak bisa ikut memilih keramik karena Alya lagi rewel dan juga cuaca relatif panas untuk membawa bayi berkulit putih mulus seperti Alya keluar rumah. Beliau menunggu saja dirumah.
"OK. Sudah siap jagoan ?," tanya ayah kepadaku.
Aku mengangguk.
"Eiitss..tunggu dulu. Pakai dong kacamata hitamnya Rizky. Supaya keren kayak babenya gitu lho," kata ayahku sambil memakaikan kacamata hitam kebanggaanku.
Ibu geleng-geleng kepala melihat aksi ayah-anak ibarat selebriti masuk kampung itu. Aku lalu mencium tangan ibuku untuk berpamitan.
"Hati-hati di jalan ya nak," kata ibuku sambil mengusap rambutku dan memakaikan topi merah bersimbol namaku di atas kepala. Hari Sabtu seperti ini angkot 99-B selalu penuh. Kemungkinan karena banyak penghuni perumahan Cikarang Baru yang ingin melewatkan waktu libur bersama keluarga diluar rumah.
"Kita naik ojek yuk," ajak ayahku sambil memanggil tukang ojek. Ibu yang mengantarkan kami sampai di gerbang pagar rumah tampak cemas. Aku dan ayah akhirnya naik menumpang ojek, memburu keramik impian melewati jalan pintas di pesisir jalan Kalimalang dibelakang rumah kami. Pantatku sedikit sakit karena harus melewati jalan darurat yang berbatu dan bergelombang.
Kami turun di Jalan Raya Cikarang-Cibarusah dimana terdapat banyak toko penjual keramik. Sayang sekali, keramik berwarna biru dengan kualitas paling bagus (KW-1) jarang terdapat dipasaran. Kalaupun ada dengan kwalitas dibawahnya (KW-3 dan KW-2). Kami sudah mengunjungi 3 toko dan tak satupun yang memenuhi harapan. Peluh mulai mengucur di kening ayah dan bajuku. Siang itu sungguh sangat membakar tubuh.
"Udah deh Rizky, kita pulang aja yuk," kata ayah putus asa. Beliau sudah berjalan menggendongku kurang lebih satu kilometer jauhnya. Aku langsung menggeleng tak setuju dan menunjuk ke arah Plaza JB yang sudah kelihatan atapnya.
Ayah angkat bahu. "OK, kita ke Plaza-JB naik ojek aja dari sini. Ayah udah capek banget nih lagian kamu maunya digendong melulu sih," kata ayahku dengan raut wajah memprihatinkan.
Akhirnya kami pun mengendarai ojek ke Plaza-JB sebagai salah satu sarana hiburan diwaktu libur bersama ayah. Seperti biasa, ritual ke plaza kebanggaan perumahan Cikarang Baru tersebut tidak lain adalah main mobil-mobilan setelah sebelumnya mampir di food-court Solaria makan nasi goreng dan minum.

Upaya pencarian keramik ciamik dilanjutkan ke hari berikutnya. Sebagai kenang-kenangan bonus tahunan ayah, ibu bermaksud membeli lukisan kaligrafi di Hypermall GIANT Bekasi Barat. Maka di Minggu yang cerah pada penghujung bulan February, sambil menumpang taxi Blue-Bird dari rumah, Aku, Ibu,Ayah, Dik Alya dan Mbak Ida Dora, mampir dulu sebentar di toko "Keramik '99" dekat jalan keluar tol Cikarang Barat. Disana relatif banyak pilihan warna keramik. Namun betapa kecewanya ayah & ibu saat mengetahui keramik biru incaran mereka tidak memiliki stock di toko tersebut.
"Jadi bagaimana nih ?. Mau ngambil warna apa dong. Cepat dikit, soalnya taksinya nunggu dan kasihan si Alya ", tanya ayah bingung. Ibu menggigit bibir.
"Ya, udah pake yang warna putih bercorak hijau aja deh. Cocok dengan warna cat dinding ruang tamu kita. Selain itu warna putih memberi kesan lebih lapang. Bagaimana ?," sahut ibu sambil menunjuk keramik pilihannya. Ayah manggut-manggut setuju.
"OK. Bungkus. 37 kardus plus keramik kamar mandi warna biru 4 kardus. Tolong diantar kerumah besok pagi aja," tegas ayah cepat. Ibu lalu menyelesaikan pembayaran pembelian keramik tersebut di kasir. Setelah selesai, kamipun beranjak pergi ke Hypermall Bekasi. Sesampai disana, kami langsung menuju counter lukisan kaligrafi. Ibu yang paling betah menawar membuatku kesal dan tak sabar. Aku ingin segera main mobil-mobilan atau kereta-keretaan. Untung, dalam waktu tidak terlalu lama, akhirnya, ayah dan ibu mengambil satu buah lukisan kaligrafi bergambar ayat Kursi berbingkai cantik. Kami tidak terlalu lama disana dan kembali ke rumah menjelang petang dengan menumpang taxi.
SEUNTAI PERCAKAPAN TENTANG KERAMIK
AYAH baru saja pulang kantor dengan wajah berseri-seri Hari Jum'at, minggu terakhir bulan February 2005. Tangan kanan beliau menenteng sebuah kantong plastik hitam besar. Tercium lekat aroma Martabak Telor Super Spesial dan Martabak keju kegemaran kami sekeluarga dari sana. Aku yang menyambut beliau didepan pintu ruang tamu, langsung digendongnya serta mendaratkan ciuman maut. Ibu yang sedang menyapih Dik Alya di sofa ruang tamu menebak sambil tersenyum :
"Dapat Bonus ni yeee.."
Ayahku cengar-cengir.
"Koq Tahu ?"
"Biasa, pake telepati," sahut ibuku asal-asalan.
"Yaa..begitulah. Sekecil apapun, anugerah itu harus disyukuri," kata ayah seraya menghenyakkan pantatnya disofa. Aku turun dari gendongannya dan mulai membuka tentengan ayah tadi.
"Terus mau diapain tuh bonus ?", tanya ibu sambil meletakkan Dik Alya di box bayinya.
"Renovasi rumah terutama ini..nih..keramik ruang tamu dan kamar yang pecah-pecah," jawab ayahku sambil menunjuk Lantai Keramik rumah kami yang pecah dan naik turun ibarat gelombang tsunami itu. Memang, kondisi keramik lantai rumah kami sungguh sangat memprihatinkan. Kontur tanah yang labil dan mungkin pengerjaan pihak pengembang yang tidak rapi menyebabkan hampir sebagian besar lantai keramik rumah kami retak, pecah dan bergelombang naik turun. Untuk menghindari kecelakaan di kaki, ayah sampai menempelkan lakban untuk menutupi keramik yang pecah. Ini tentu sangat merusak pemandangan.
"Budgetnya cukup nggak ?", tanya ibuku penasaran.
"Ssst..tunggu dulu..kita lanjutkan setelah pesan-pesan berikut", kata ayah sambil ngeloyor ke WC dan dengan gerakan ala balerina ternama beliau membuka pintu kamar mandi kami sambil kemudian melemparkan senyum jenaka.
"Hmm..pasti deh..", ibuku langsung ngambek.
"He-he-he...I wanna be-ol dulu ya.."(Oalaaah...mau buang air besar aja, pake "memperkosa" bahasa segala, coba apa sih artinya "be-ol" dalam bahasa Inggris ?), sahut ayahku dari balik pintu kamar mandi.
"Selalu begitu. Kalau mau diajak ngobrol atau diskusi aja sepulang kantor, pasti langsung ke WC dulu..kenapa sih nggak di kantor aja dulu buang hajatnya ? ," kata ibuku kesal.
"Yeee...Mmmmbbpphhh (ngeden..ceritanya..hehehe..)..kan' baru kerasa disini, masa mau dipaksain harus dikantor ?...Mbbbpphh..plung...aaaahhh..!(ngeden lagi..sambil menjatuhkan sesuatu, you know lah yaww..dan bernafas lega)," jawab ayahku dari balik pintu kamar mandi.
"Sebbbbeeell deh sama Papanya Rizky !," seru ibuku dengan muka tertekuk didepan pintu kamar mandi. Beliau membawa Alya dari Box bayinya ke kamar tidur.
Tidak berapa lama kemudian, ayah keluar dari kamar mandi dengan muka cerah ceria. Biasanya beliau makan malam dulu kemudian mandi. Namun melihat gelagat ibu sedang ngambek berat, sambil melangkah beringsut beliau memasuki kamar.
"Sssst...diam Rizky, Sini ikut kita godain ibumu yuk.." kata ayah kepadaku yang sedang asyik mengunyah martabak telor ditemani Mbak Ida Dora. Aku berlari mendekati ayah, dan ikut berjalan beringsut ala maling ayam bersama ayah menuju kekamar.
Ibu tidur memunggungi kami sambil memeluk Alya.
"Ngambek ni yeee..", kata ayah menggoda sambil berbisik ditelinga ibu. Aku ikut naik ketempat tidur dan berbaring disamping Alya.

"Biarin !", sahut ibu ketus.
"Ojo ngono to' sayangku," rayu ayah ala "campur sari".
"Panggilan alam kayak tadi itu nggak bisa ditolak, sayang. Tapi kalau diskusi tentang perbaikan keramik kan' masih bisa ditunda," kilah ayah.
Ibu diam, pasang aksi Ja-Im (Jaga Image). Ayah tidak menyerah.
"OK. Sekarang kita mulai soal pemilihan tukang. Kayaknya kita pake Mas Parno dan kawan-kawan aja deh..itu tuh tukang yang lagi ngerjain bangunan Pak Andy didekat rumah kita. Kerjaan mereka bagus koq. Lagipula tarifnya murah. Kita order borongan saja. Dan paling penting, mereka tidak perlu tinggal bersama kita. Pokoknya kerjaan selesai mereka kembali ke tempat semula. Besok Mas Parno kita panggil kemari," kata ayah membuka percakapan.
"Hmmm...," ibu bergumam. Masih Jaim.
"Terus apalagi nih. Sekarang soal warna keramik. Yang paling cocok adalah yang bercorak kayu. Warna kecoklatan agak muda dengan motif khusus. Kayak wooden flooring gitu lho. Pasti hasilnya mengagumkan," kata ayah lagi.
"Tidak setuju!", tiba-tiba ibu berseru sambil membalikkan badan dan memandang ayah tajam.
"Yee..Katanya ngambeeek...", goda ayah. Ibu tidak peduli.
"Pokoknya yang paling bagus keramik warna biru. Yang corak wooden flooring itu kan' sudah dipakai sama tetangga sebelah. Punya kita mesti lain dong," sahut ibu sengit.
Ayah angkat bahu.
"Rizky bagaimana ? Setuju ?," tanya ayah kepadaku. Aku kebingungan mau jawab apa.
"Lho, koq tanya Rizky sih ?," ibu balik bertanya.
"Dia juga punya hak untuk memilih. Sekarang begini saja, kita berdua acungkan telunjuk kearahnya, dan minta Rizky pilih salah satu telunjuk. Jika pilih telunjukku berarti kita pake keramik coklat, kalau telunjukmu berarti pakai keramik warna biru. Setuju ?," kata ayah. Ibu mengangguk. Aku masih bingung. Dan makin bingung lagi ketika keduanya mengacungkan telunjuk kearahku. Apa-apaan nih ?.
"Pilih Rizky, telunjuk mana nih ?", tegas ayah memberi instruksi.
Aku pun dengan mantap memilih telunjuk ibu. Ayah mencoba protes.
"Eiits..dilarang protes, salah sendiri ayah ngacungin telunjuk tangan kiri ke Rizky,kan' kita semua tahu barusan habis ngapain..hehehe," ibu terkekeh dan tersenyum penuh kemenangan. Aku ikut tertawa. Alya berteriak sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Ayah garuk-garuk kepala. Mungkin bingung, memangnya tadi habis ngapain ya ?.